Banner

Minggu, 23 Januari 2011

Baik-baik Sayang: Biografi Berbalut Roman Murni



Pemain : Wali, Intan Nuraini, Arumi Bachsin, Sulis, Dennis Adhiswara, Didi Petet
Sutradara : Iding Sunadi
Penulis : Jujur Prananto
Produser : H. Yusuf Selamat, Henri Darmawan
Produksi : Exmat, Cinevisi
Durasi : 90 menit


Film dalam banyak genre telah menjadi medium dengan berbagai fungsi. Selain mendidik dan mempropagandakan sesuatu, film juga menjadi penanda. Beberapa film dirancang untuk memperingati tokoh besar atau memanfaatkan momen yang sedang diperbincangkan. Tokoh besar biasanya dikonsep dalam kemasan biografi. Jika si tokoh sedang “in”, ia dilibatkan dalam film demi alasan komersial.
Pedangdut yang mengaku dinodai dai misalnya, sesaat lagi akan tampil dalam film horor seksi. Lain halnya dengan kebesaran RA Kartini dan Tjoet Nja Dhien dikemas dalam film biopic pada 1982 dan 1986. Di Hollywood, karier Ray Charles diabadikan dalam Ray (2004). Sementara momen emas Britney Spears dimanfaatkan mendongkrak Crossroads. Fenomena ini terulang awal tahun ini. Siapa yang tidak kenal Wali? Band yang menjual singel “Baik-Baik Sayang” ke angka 20 juta unduhan ring back tone ini memanfaatkan kecemerlangan kariernya di layar lebar.
Tidak seperti Britney yang ditangani begitu buruk, Wali mencoba menjadi diri sendiri. Ia tampil dengan plot besutan Jujur Prananto. Mantan juri FFI 2010 ini memformulasikan naskah biografi dibalut roman murni. Pengaruh Jujur dalam Baik-Baik Sayang The Movie (BBS) kentara. Ia menyelamatkan 75 persen wajah film dengan penceritaan yang apik.
Penceritaan ini disambut kepekaan Herry di departemen artistik. Set utama BBS adalah pondok pesantren La Tansa, Tangerang. Suasana ini dijual sepanjang film. Kesederhanaan hidup di pesantren, konflik-konflik laten, dan tentu saja roman. Jujur sadar, biografi bukanlah genre yang mudah dijual. Meski di sisi lain, BBS diduga kuat sudah punya basis penonton tetap, para penggemar Wali.
Karenanya, ada dua pilar besar yang dibangun Jujur. Pertama, perjalanan karier Wali dari anak pesantren menjadi superband. Kedua, drama cinta Faank dengan Westi (Intan). Dikisahkan, jalinan kisah Faank-Westi tidak mendapat restu orang tua Westi. Jalan cinta mereka makin sulit saat keduanya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Westi lumpuh.
Kabar buruk ini sampai ke telinga Faank. Sempat terpikir untuk kabur dari pesantren. Apoy, Tomi, dan Ovie mengingatkan, jika Faank nekad kabur, Kyai Besar (Didi) akan murka. Tomi yang melihat kebuntuan ini berupaya membantu Faank. Caranya, menjodohkan Faank dengan Nurul (Sulis). Hati Faank tidak bisa berpaling.
Ketika musim libur tiba, Faank mendatangi ayah Westi (August Melasz) dan memohon maaf. Sayang, Westi telah dijodohkan dengan Bagas (Dennis). Drama ini kemudian dipadukan dalam ending yang sudah bisa Anda diduga. Dalam pandangan kami, ada sedikit miss memasuki tahap penyelesaian masalah. Bisa jadi, Anda berpendapat sama dengan kami atau malah menganggap pakem happy ending yang ditawarkan sineas Iding Sunadi pada tempatnya. J wyn/Foto: Dok. Exmat, Cinevisi
Caption: Faank meminta Apoy menyamar sebagai dukun asal Mesir untuk menemui Westi (Intan).



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger