
Pemain : Marsha Timothy, Ben Joshua, Indra Herlambang, Jajang C. Noer, Yoga Pratama
Sutradara : Nurman Hakim
Penulis : Nurman Hakim, Nan T. Achnas
Produser : Nan T. Achnas , Nurman Hakim, Sentot Sahid
Produksi : Triximages & Frame Ritz Pictures
Durasi : 90 menit
Khalifah alias Ifah (Masha) dijodohkan ayahnya dengan Rasyid (Indra), lelaki yang tidak begitu dikenalnya. Ia percaya rumah tangganya akan bahagia, mengingat Rasyid taat agama. Apalagi, ayahnya yang merekomendasikan. Yang membuat Ifah ragu, Rasyid memintanya mengenakan cadar. Padahal, Ifah banting tulang di salon demi membiayai kuliah Faisal (Yoga), adiknya. Rita, pemilik salon terkejut mendapati Ifah datang dengan kostum baru. Kostum hitam plus cadar membuat pelanggan salon kabur.
Berat bagi Rita memecat Ifah. Apalagi, Rita dan ibunda Ifah bersahabat sejak lama. Akhirnya, Rita membuat kebijakan baru. Khusus Jumat dan Sabtu, salon hanya menerima pelanggan perempuan. Beberapa bulan kemudian, Ifah mengandung. Rasyid jarang pulang. Kalau toh pulang, hanya menginap sehari. Pekerjaan Rasyid masih samar. Hari itu, televisi menyiarkan penyergapan teroris di Tangerang. Bersamaan dengan disiarkannya berita itu, Ifah menerima kabar suaminya dilarikan ke rumah sakit.
Film Islami dengan isu khusus teroris belum banyak dibuat. Sebelumnya ada Long Road To Heaven (2007). Kali ini, sisipan isu sensitif ini muncul dalam Khalifah, karya Nurman Hakim. Jika dikaji ulang, topik utama Khalifah tidak bertumpu pada isu “pengantin” berani mati. Melainkan, proses batin seorang istri saat menutup aurat sendiri. Proses ini ditutur detail, cenderung step by step. Marsha tampil konsisten saat memperagakan menutup wajah perlahan.
Dalam tone film yang mengalun tenang itu, kami menyadari beberapa hal. Pertama, mengusung tema seberat ini di tengah kondisi penonton yang cenderung enggak mau berpikir ribet cukup berisiko. Nurman dituntut memperhatikan kondisi psikologis semacam ini. Kedua, persepsi publik terhadap keberpihakan dan objektivitas Nurman.
Ini terlihat jelas dari karakter Rasyid yang cenderung abu-abu. Ia di-suspect penonton sebagai teroris. Kami tidak akan membocorkan ending film seperti apa. Hanya, sampai film berakhir, kami kok masih bingung. Sebenarnya, Rasyid itu teroris bukan? Televisi memberitakan laki-laki yang diduga anak buah Dulmatin dan Umar Patek. Diduga. Belum tentu benar. Dan laki-laki yang diberitakan itu belum tentu Rasyid, kan? Jika demikian, mengapa Rasyid tergeletak di rumah sakit secara bersamaan?
Pada akhirnya, Nurman tak mau memihak. Jika Rasyid benar teroris, Khalifah seolah hendak membenarkan premis wanita bercadar pasti istri teroris. Faktanya, itu tidak benar. Wanita memutuskan bercadar karena ingin menjalankan perintah agama. Menyelamatkan muka mereka dengan cadar. Ini salah satu bentuk kesetiaan wanita terhadap Tuhan mereka.
Cadar bukan indikator istri teroris. Bukan identitas mutlak. Memakai cadar tidak serta merta menaikkan “pangkat” dari istri menjadi nyonya teroris. Karenanya, Rasyid yang mulanya di-suspect teroris oleh penonton dimentahkan kembali oleh Nurman. Khalifah menjadi pembuka di putaran 2011. Pembukaan yang manis, karena semua kasting di film ini tampil konsisten. Semoga Khalifah disambut manis penonton.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer


0 komentar:
Posting Komentar